Baca Artikel

Kain Tenun Nusantara Dan Simboliknya Kain Geringsing Tenganan Penolak Bahaya

Oleh : karangasemkab | 14 Januari 2013 | Dibaca : 2434 Pengunjung

Oleh Komang Pasek Antara

 

Ketika orang tua, Kakek/Nenek kita bercerita tentang kulit kayu sebagai pakaian (alat pelindung tubuh) manusia pada jaman dahulu, beliau selalu mengucapkan, bahwa kita yang masih hidup ini harus bersyukur, karena kita bisa mengolah dan mampu mengembangkan sumber daya alam menjadi kain (tekstil) seperti yang kita pakai sekarang ini, sebagai pengganti kulit kayu.Terenyuh!Selain kain batik yang kini telah mendapat pegakuan dunia hasil hak cipta produk Indonesia, kita juga mengenal produksi kain (tekstil) lain yaitu kain tenun tradisional. Salah satunya kain tenun tradisional, produk budaya manusia di berbagai belahan dunia telah dikenal sejak 5000 tahun SM.

Juga sejarah kerajinan tenun, jauh sebelum jaman batu dikenal kain Tenun Wol dikenal pada zaman perunggu di Eropa Utara. Sedangkan kain tenun sutra produk bangsa Cina, dikenal jauh sebelum tahun 500 SM. Adapun negara-negara yang pertama kali menghasilkan kain tenun adalah Cina, India, Mesir (MuseumNTB, 1990:9). Untuk di Indonesia, kain tenun dikenal sejak masa Neolitichum tahun 2000M. dibawa orang lewat Asia Tenggara (Seraya,1997 : 10)

Kain Tenun Indonesia Paling Kaya di Dunia

Tekstil berasal dari kata texere yang diartikan menenun. Dalam arti luas, tekstil tidak terbatas pada hasil tenun saja, tetapi juga termasuk melalui proses menganyam, merajut, merenda (Ensklopedi, 1990 : 169). Proses difusi sistem pengetahuan, salah satu dari tujuh unsur kebudayaan universal itu, telah lama diterima dan dikembangkan oleh masyarakat di seantero Nusantara dengan berbagai corak/khas yang berbeda-beda hasil adaptasi alam budayanya, seperti kain tenun: Lombok, Bali, Minangkabau, Jawa, Sumba dan lain-lainnya.

Memang indah dan menarik kain tenun Nusantara (Indonesia). Seorang pengamat tekstil, Joseph Fisher dalam bukunya Threads of Tradition : textiles of Indonesia and Serawak , menyatakan bahwa seni tenun yang paling kaya dan canggih yang pernah ada di dunia dihasilkan di Indonesia.Juga menurut catatan Ensklopedi Indonesia 1990:243, dalam pameran kerajinan internasional yang diikuti oleh dua belas negara di Jakarta 1985, tenun ikat Sumba (Nusa Tenggara Timur) dinilai dan disyahkan sebagai tenun terbaik serta diberi penghargaan tertinggi.Kini, eksistensi kain tenun di masyarakat, bukan saja untuk estetika, status sosial, pelindung tubuh dari pengaruh alam, tetapi telah berevolusi yang diapresiakan oleh suatu sistem, yaitu simbol.

Simboliknya tersebut dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat bersangkutan sejak dikenalnya kain tenun tradisional, baik dalam hubungan secara vertikal maupun horisontal, dan selalu dikaitkan dengan pelaksanaan konsep sosio religi, seperti busana adat, upacara inisasi, alat tukar menukar, hadiah dan lain-lainnya. Di Nusa Tenggara Barat, khususnya di Lombok, kain kembang Komak memiliki simbol yaitu dibawa oleh gadis saat akan menikah untuk selimut tidur.

Umumnya waktu itu, masyarakat Sasak di Lombok, melangsungkan pernikahan pada musim dingin, yaitu saat pohon komak (kara) berbuah (Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya NTB, 1992 : 332).Sedangkan untuk Bali, tepatnya di Desa Tenganan Pegeringsingan, Karangasem-Bali dikenal kain tenun tradisional geringsing dengan proses teknik ikat ganda. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, kain yang memiliki beberapa bentuk corak itu, sebagai simbol untuk busana adat/religi dan nilai magis guna penolak bahaya. Hal itu dapat disimak dari nama kainnya, yaitu geringsing. Geringsing, asal kata gering (bahaya/malapetaka) dan sing (tidak), berarti tidak berbahaya. Jadi, dengan mengenakan busana kain geringsing tersebut akan terhindar dari malapetaka.

Perlu diketahui, disamping proses pembuatan sangat lama hingga setahun lebih, juga pewarnanya dari tumbuh-tumbuhan, serta harganya sampai jutaan rupiah.Di Sumba Timur (Nusa Tenggara Timur), tenun ikat (hinggi) sebagai simbol orang hidup. Contoh, bila seorang istri akan melahirkan bayi tanpa didampingi suaminya, secara psikologis istri menjadi resah mengakibatkan si anak sulit lahir. Oleh karena itu, kain selimut (tenun), bisa dianggap mewakili sang suami, sehingga bayi akan cepat lahir (Purwadi, 1986 : 84)Pada suku bangsa DayakBenuaq di Kalimantan Timur, dulu kain tenun mempunyai kekuatan magis. Misalnya, seorang (petani) memakai jaket(pakaian) motif burung sewaktu mengolah ladang, akan mengakibatkan hasil produksi tanamannya mengikat (Ensiklopedi,1990 : 245)

Wanita dan Museum

Beberapa daerah di pedesaan maupun perkotaan di negara kita, kain tenun tradisional identik dengan wanita (simbol wanita). Tradisi itu, biasanya mengalir secara turun-temurun dalam suatu keluarga yang cenderung merupakan kerja sambilan diantara deru kesibukan suatu rumah tangga sehari-hari.

Bagi kaum Kartini, sebelum mereka memasuki gerbang rumah tangga, hendaknya sudah mampu membuat kain tenun. Hal itu, dimaksudkan untuk bekal memasuki proses kehidupan berkeluarga. Lewat belaian jemarinya yang lentik, lahirlah lembaran gulai berbagai macam motif seperti: bunga, sulur, fauna, flora, geometris, identitas mereka sendiri dan lain-lainnya.Tampaknya dilapangan, proses kreatifitas sosial tenun tradisional rambahannya tidak seperti proses pendidikan kursus-kursus yang menjamur di masyarakat, seperti komputer, mengetik, akuntasi, bahasa asing, menjarit dan lain-lainnya.

Meski gerakannya hanya dalam lokalitas tertentu (tidak banyak masyarakat terlibat dibandingkan dengan kursus-kursus tadi), tetapi masih mampu bicara sebagai primadona khas bangsa Indonesia melalui kreasi-kreasi dan fungsi sosial.Wujud perkembangan perstektilan (kain tenun) itu, tidak terbatas untuk kualitas dan kuantitas saja. Lebih dari itu, untuk melestarikan budaya bangsa, Museum berfungsi sebagai media penyimpan, pemelihara, serta informasi ilmu pengetahuan. Di negara kita , Indonesiatelah memiliki Museum Tekstil di Jakarta yang berdiri tahun 1976. Di Museum, kita tahu banyak tentang tekstil.



Artikel Lainnya :

Lihat Arsip Artikel Lainnya :

 



Galeri
Banner
Kritik Saran

I Komang Karyana

2021-01-27 11:13:04

Area Blankspot

Selengkapnya...

Rizki Aryawan

2018-04-05 10:40:30

Jalan Amblas

Selengkapnya...

Yoga Aryawan

2018-03-08 11:09:08

Beasiswa

Selengkapnya...
Polling
Bagaimana Penilaian Anda Terhadap Kualitas Pelayanan Publik Pemkab Karangasem?
Statistik

Total Pengunjung Hari Ini : 291

Total Pengunjung : 1479947

Pengunjung Online: 3

Pengunjung Tahun 2018: 131224

Pengunjung Tahun 2019: 107326

Pengunjung Tahun 2020: 144390

Pengunjung Tahun 2021: 404435