Baca Artikel

Perpustakaan Masa Pandemi Covid-19 “Sengsara Membawa Nikmat” Oleh I Komang Pasek Antara

Oleh : | 02 Agustus 2021 | Dibaca : 266 Pengunjung

Gelombang badai pandemi  Covid-19 sudah satu setengah warsa telah mengombang-ambingkan tatanan kehidupan manusia di dunia termasuk Indonesia. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana endingnya apalagi kini masih ada PPKM Darurat Jawa-Bali. Tentu semua berharap badai gelombang itu segera reda melandai bagai air di kolam, tenang.   

Tak terkecuali salahsatu sektor sumber pusat ilmu pengetahuan sebagai area publik yaitu perpustakaan konvensional yang ikut berdampak digulung badai Covid-19 tidak ada lagi pemustaka berani bekerumun berdekatan berlama-lama mengunjungi perpustakaan sembari berdiskusi dengan pemustakalainnya seperti sebelum terjadi pandemi. Hal itu guna menghindari/mengurangi risiko dampak penularan Covid-19. Melihat fenomena alam seperti itu, bagaimanakah nasib kondisi perpustakaan?

 

Perpustakaan Konvensional

Perpustakaan konvensioanl sebagaimanakita ketahui bersama, disamping sumber pusat informasi ilmu pengetahuan untuk peberdayaan masyarakat juga sebagai tempat rekreasi individu dan keluarga. Khusus di Indonesia ada ribuan lembaga literasi perpustakaan konvensional  di semua tingkatan dari perpustakaan nasional/perguruan tinggi/umum provinsi/kabupaten/kota/kecamatan/desa/sekolah dan lainnya tak lagi leluasa kunjungi pemustaka seperti sebelumnya.

Sementara masih ada  pandemi Covid-19, semua perpustakaan khusunya di Indonesia pemustakanya jauh menurun drastis apalagi di wilayah Jawa-Bali, kini ada kebijakan dari pemerintah menerapkan PPKM Darurat. Tentu sektor perpustakaan yang masuk kategori non esensial ditutup sementara.

Meski perpustakaan konvensional publik ditutup sementara bagi pemustaka, bukan berarti perpustakaan mati, masih ada denyut nafas-nafas, hanya istirahat sementara. Secara fisik gedung perpustakaan tetap dibuka, hanya diperuntukkan aktivitas bagi pengelolanya.

Bagi manajemen dan pengelola perpustakaan konvensioanl, situasi dan kondisi alam seperti ini dapat dimanfaatkan bahan evaluasi program bagaimana meningkatkan sumber daya manusia pengelola, kualitas-kuantitas  layanan perpustakaan, dan daya literasi masyarakat. Juga pengelola perpustakaan dapat lebih leluasa untuk kembali selving menata pajangan koleksi agar terlihat indah dimata pemustaka, serta  pendataan koleksinya lebih valid. Ventilasi gedung perpustakaan setiap hari kerja hendaknya tetap dibuka untuk memberikan pencahayaan langsung sinar matahari menghindari kerusakan koleksi dari jamur.

Ya, memang benar fisik  gedung perpustakaan publik ditutup sementara karena pandemi. Namun bukan berarti akses mencari sumber-sumber ilmu pengetahuan yang ada di perpustakaan ditutup rapat tanpa ada  akses lainnya. Kini era globalisasi, buah transformasi  teknologi informasi telah tersedia yang dikenal dengan nama perpustakaan digital sebagai alternatif solusi pengganti perpustakaan konvensional.

 

Perpustakaan Digital  

Perpustakaan digital atau  nama lainnya digital libray adalah perpustakaan non konvensional yang dapat menyimpan data koleksi buku dan lainnya dalam bentuk tulisan, gambar dan suara melalui akses  jaringan elektronik internet ke komputer/gawai/tablethand phone/tablet/laptop dan jenis elektronik berjaring internet lainnya.

Suasana pandemi Covid-19 menjadi pilihan sementara langkah bijak terbaik bagi pemustaka beralih ke perpustakaan digital melalui berbagai aplikasi menghindari keluar rumah #dirumahaja agar tidak terjadi kontak fisik langsung dengan orang lain di gedung perpustakaan atau toko buku.

 

“Sengsara Membawa Nikmat”

“Sengsara membawa nikmat”, mungkin itu sebuah idiom dikala pandemi Covid-19. Menyengsarakan, masyarakat tidak bisa leluasa lagi mengunjungi langsung perpustakaan dan sentra-sentra penyedia buku seperti sebelumnya saat sebelum pandemi Covid-19. Nikmatnya, konten perpustakaan digital melalui digital akses jaringan internet dapat dikunjungi dan dinikmati oleh pemustaka dengan santai dari rumah atau dimana saja sedang berada sembari nyeruput kopi.

Saat mulai dilanda pandemi Covid-19, sudah banyak instansi/lembaga pengelola perpustakaan tingkat nasional/perguruan tinggi/provinsi/kabupaten/sekolah di Indonesia  masif membuat menyediakan  aplikasi perpustakaan digital guna memberikan kemudahan akses pemustakanya. Apalagi mahasiswa dan anak didik satuan pendidikan  sebagai pemustaka terbanyak sampai saat ini masih belajar secara daring dari rumah tentu membutuhkan refrensi dari perpustakaan dalam proses belajar-mengajar.

 

iPusnas

Di tingkat nasional, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI di Jakarta sejak beberapa tahun lalu sudah mengembangkan beragam koleksi dan layanan dalam bentuk digital secara gratis tanpa biaya di antaranya Layanan Keanggotaan Online, pemanfaatan jurnal ilmiah elektronik (e-resources), pusat jejaring repositori digital (Indonesia OneSearch), perpustakaan digital mobile iPusnas, pembangunan Pojok Baca Digital, dan Layanan Khasanah Pustaka Nusantara (Khastara).

Contoh, aplikasi iPusnas yang dikelola Perpusnas RI dapat diakses melalui unduh aplikasi appstore, google play danwindows atau melalui laman www.perpusnas.go.id,selanjutnya  pengguna bisa melakukan pendaftaran dengan menggunakan email atau akun facebook. Data diperoleh dari Perpusnas RI, aplikasi perpustakaan digital per tanggal 15 September 2020 lalu telah memiliki 652.547 salinan buku digital dan 54.517 judul buku. Sedangkan jumlah pengguna yang mengunduh iPusnas dan jumlah peminjaman buku di iPusnas terus meningkat (sumber: perpusnas, net).

 

Plus-MinusPerpustakaan Konvensional-Perpustskaan Digital

Plus-minusantara perpustakaan konvensional dengan perpustakaan digital. Keuntungan dan kelebihan perpustakaan digital, perpustakaan digital tidak memerlukan ruangan khusus untuk memajang koleksi, praktis dapat diakses darimana saja dan kapan saja asalkan ada sarana elektronik dan jaringan internet, dan tidak terbatas oleh jarak dan waktu saat membaca/meminjam buku.

Sedangkan kekurangan perpustakaan digital, sangat dirasakan bagi pemustaka kategori lansia (lanjut usia) dan  tidak familiar dengan sarana teknologi informasi-komunikasi tersebut. Ada juga kesulitan mengoprasionalkan sarana tersebut apalagi karena lansia, penglihatan mata tidak lagi sempurna seperti sewaktu masih muda. Lagi, kekurangan perpustakaan digital, penglihatan mata tidak kuat berlama-lama membaca teks dilayar kaca karena pantulan sinar cahayanya, serta  pemustaka membutuhkan biaya operasional pulsa paket internet.

Bagi pemustaka pengegemar baca buku fanatis, akan merasa puas langsung membaca teks sumber buku aslinya, dan cepat memaknai konten buku apalagi suasana tempat membaca bukunya di ruang perpustakaan konvensional.

Di perpustakaan konvensional pemustaka merasakan ada vibrasi secience mengalir pada dirinya. Terkadang di perpustakaan konvensional dapat dijadikan media diskusi dan sharing diantara pemustaka lainnya. Sekarang tergantung pilihan pemustaka antara perpustakaan konvensional atau perpustakaan digital. Tetapi masa pandemi Covid-19 masih berkecamuk, rasanya pilihan bijak membaca buku di rumah saja atau baca buku melalui akses internet.

 

Aktivitas Kepustakawanan melalui Webinar-Zoom

Sisi lain pandemi Covid-19 memberikan kita pengenalan baru bidang teknologi informasi-komunikasi untuk mengetahui banyak dengan murah, mudah dan meriah tentang aktivitas kepustakawanan dan literasi bersama orang-orang sebagai narasumber  yang memiliki kompetensi praktisi dan akademisi dibidangnya. Hal tersebut dilakukan melalui webinar atau seminar dan sejenisnya secara daring menggunakan aplikasi terhubung internet diantarnya aplikasi zoom  dan sejenisnya.

Semenjak pandemi, untuk menghindari kerumunan massa mengacu protokol kesehatan, aktivitas kepustakawanan di seluruh belahan dunia yang dapat diketahui publik digelar melalui webinar atau sejenisnya menggunakan aplikasi zoom. Terhitung sudah ratusan kali lembaga kepustakawanan dan komunitas literasi  pusat dan daerah di Indonesia telah melakukan kegiatan dengan cara itu.   

  Dulu sebelum ada pandemi Covid1-19, hampir semua kegiatan kepustakawanan yang melibatkan banyak orang dengan tatap muka langsung. Artinya sejak pandemi Covid-19, kita baru lebih familiar istilah-istilah baru dalam teknologi informasi, diantaranya zoom, webinar, daring dan sebaginya. Juga dari segi biaya peserta mengikuti seminar lebih murah dibandingkan dengan tatap muka langsung, bisa dari rumah atau dimana saja berada. Biasanya dahulu peserta dari daerah akan ikut seminar diklat kepustakawanan tingkat nasional harus ketempat kegiatan.(Penulis Pustakawan padaDinas Perpustakaan dan KearsipanKab. Karangasem)



Artikel Lainnya :

Lihat Arsip Artikel Lainnya :

 



Galeri
Banner
Kritik Saran

I Komang Karyana

2021-01-27 11:13:04

Area Blankspot

Selengkapnya...

Rizki Aryawan

2018-04-05 10:40:30

Jalan Amblas

Selengkapnya...

Yoga Aryawan

2018-03-08 11:09:08

Beasiswa

Selengkapnya...
Polling
Bagaimana Penilaian Anda Terhadap Kualitas Pelayanan Publik Pemkab Karangasem?
Statistik

Total Pengunjung Hari Ini : 405

Total Pengunjung : 1531611

Pengunjung Online: 3

Pengunjung Tahun 2018: 131224

Pengunjung Tahun 2019: 107326

Pengunjung Tahun 2020: 144390

Pengunjung Tahun 2021: 404435