Baca Artikel

Menimbang Tradisi Mendongeng

Oleh : karangasemkab | 14 Januari 2013 | Dibaca : 1003 Pengunjung

Oleh: Komang Pasek Antara

 

Mendengar kata dongeng, kita teringat akan nostalgia masa kanak–kanak diantara komunikasi si anak dengan orang tua serta kakek/neneknya menjelang tidur malam. Dongeng dan mendongeng merupakan salah satu jenis karya sastra tradisional yang dilakukan secara langsung dari pendongeng kepada yang didongengkan.Secara tradisi dongeng tersebut biasanya dilakoni olehmelalui orang tua atau kakek/nenek kepada anak/cucunya. Juga di era sekarang mendongeng dapat dilakukan setiap saat dalam aktivitas pendidikan formal/non formal melalui berbagai media

Era moderenisasi sekarang ini di negara kita berdasarkan pengamatan sepintas jujur nyaris seperti bayang–bayang, hilang tidak, tampak pun jarang–jarang. Kalau boleh dikatakan, produk budaya media pendidikan dan hiburan terhadap anak–anak ini, harus berlapang dada diterobos oleh arus teknologi informasi dan komunikasi seperti televisi dan audi visual lainnya.

Permasalahan tersebut nyaris jarang sekali muncul ke permukaan umum sebagai topik permasalahan serius. Hanya beberapa pihak tertentu khususnya yang menangani/menggeluti pendidikan dunia anak yang peduli akan nasib budaya mendongeng. Padahal mendongeng oleh orangtuaatau kakek–neneknya menjeklang tidur sangat mendidik dalam hubungannya dengan tingkat imajinasi anak dan komunikasi sosial kedua belah pihak baik mendongengkan secara langsung, tanpa membaca maupun dengan membaca lewat buku. Bukan berarti pemerintah/masyarakat menganaktirikan media pendidikan anak yang satu ini. Mungkin belum dianggap mengkhawatirkan eksistensinya di masyarakat.

 

Nilai Kerohanian

Sebelumlebih jauh membahas eksistensi tradisi mendongeng itu sendiri pada situasi sekarang, ada baiknya mengingatkan kembali apa yang terdapat dalam perut dongeng itu. Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan Poerwadarminta mengatakan , bahwa dongeng merupakan cerita terutama tentang kejadian zaman dulu yang tidak terjadi benar. Di beberapadaerah di Nusantara ada/mengenal nama istilahmendongeng. Pada masyarakat Bali, mendongeng dikenal dengan istilah mesatua, sehingga diplesetkan menjadi satuara ada (ceritera yang tidak terjadi).

Secara universal dongeng mempunyai manfaat terutama terhadap si pendengar terutama anak- anak, seperti yang di kemukakan oleh almarhum Prof. Dr.I Gusti Ngurah Bagus, guru besar Fak.Sastra Unud dalam bukunya yang berjudul “Arti Dongeng Bali dalam Pendidikan”, bahwa dongeng–dongeng Bali mengandung nilai–nilai kerohanian , Nilai – nilai rohani yang terkandung antara lain:

(1)bahwa dalam dongeng itu terdapat motif ,dimana kebijakan–kebijakan , perbuatan – perbuatan baik mempunyai pahala yang baik, dan perbuatan–perbuatan buruk menghasilkan pahala yang buruk.

(2)Bahwa dalam dongeng itu nampak adanya kepercayaan pada zat yang tertinggi yang menentukan nasib manusia;

(3)Bahwa dalam dongeng itu terdapat ajaran–ajaran yang mengandung kewajiban , baik kewajiban si anak terhadap leluhurnya maupun kewajiban yang harus dilaksanakan manusia terhadap sesamanya dan bahkan untuk sekalian makhluk;

(4)Dalam dongeng–dongeng itu juga terdapat kelaliman yang ada dalam tangan orang yang sedang berpuasa akhirnya akan runtuh walaupun kekuatan itu datang dari orang miskin sekalipun.

 

Terkait dengan masalah mendongeng, bercerita seperti ditulis Julius Pour(Kompas,15/3) sebagai salah satu cara untuk memperkaya imajinasi dan cara berpikir anak–anak. Itu semua memberi peluang kepada anak–anak untuk ikut merasakan kesedihan, kegembiraan ketegangan dan sebagainya. Ketika mereka mendengar ,mereka akan berkhayal, membangun imajinasi dan memperkirakan sendiri tentang bagaimana akhir sesuatu cerita.

Demikian juga yang dikemukakan oleh Murti Bunanta SS.MA, dari Kelompok Pencinta Bacaan Anak – anak (KPBA) Indonesia. Lewat bercerita kepada anak–anak merupakan hal sangat penting dalam ikut membangun keperibadian mereka. Kemudian juga memberi buku serta memperkenalkannya (lewat dongeng mengambil bahan dari buku), anak–anak bisa mulai diajar mencintai buku,sehingga nantinya mereka akan bisa menempatkan buku sebagai salah satu bagian dari kebutuhan hidupnya.Senada di atas, bahwa jarangnya orangtua atau kakek–neneknya mendongeng secara langsung kepada anak–anak, diakibatkan oleh anak–anak sudah mulai beralih ke bacaan cerita anak-anakyang mudah diperoleh di pasaran seperti majalah Bobo, Ananda, Si Kuncung, dan sejenisnya.

Perilaku alih media seperti itu, para orang tua anak jangan resah dan gelisah! Hal itu juga mengandung gejala positif, melatih kelancaran anak membaca dan berbahasa , seperti halnya apa yang dikatakan Murti Buananta di atas. Sekarang yang penting peran orang tua unntuk memilih dan memilah, serta mengawasi si buyung, media bacaan mana relevan dikonsumsi, mengingat bahan–bahan bacaan yang tersebar dipasaran sangat banyak ragamnya dengan gambar–gambar merangsang bagi anak.

Masyarakat Bali mengenal istilah ungkapan tidak boleh mesatua (didongeng) selain malam hari, nanti masakan nasinya menjadi pasil (basi). Ungkapan tersebut disampaikan kepada anak, agar anak tidak mengganggu bapak/ibu/kakek/nenek untuk didongengkan saat pagi-sore, karena saat itu waktunya sibuk untuk kegiatan soaial-ekonomi.

Tentu tidak akan efektif dan efisien, apabila mendongeng selain malam hari, karena hari itu penuh kegiatan sosial ekonomi. Anak – anakpun perlu dibatasi untuk tidak larut terus membaca dongeng, sehingga merupakan pelajaran sekolah, karena dongeng sangat mengasikkan bagi anak. Tak ubahnya seperti membaca cerita serial Kho Ping Hoo, cerita bersambung lainnya, terus ketagihan.

Para orang tua sering menghadapi selain kendala tadi, juga anak–anak sulit digiring, karena mereka lebih cenderung lari ke gelas kaca televisi, siang dan sore, melihat perkasanya Spiderman, Naruto, Donal Bebek dan sejenisnya termasuk hiburan musik lainnya. Bahkan waktu jam belajar di rumah masih ada tayangan di TV menanyangkan film kartun. Kadang–kadang si anak tertidur di depan televisi. Belum terhitung belajar pelajaran sekolah dan waktu bermain–main. Dunia anak–anak memang padat.

Dongeng Indah dari Asia

Kita banyak mengenal cerita dongeng mendidik di Bali yang baik misalanya: I belog, Siap Selem, Cangak teken I keyuyu, dll. Tampak jelas antara hitam dan putihnya . perbuatan buruk mendapatkan pahala buruk pula, begitu sebaliknya.Tradisi dongeng bukan saja tumbuh subur di Indonesia, melainkan di Asia dan belahan dunia lainnya. Seperti buku kumpulan Dongeng Indah dari Asia dan Dongeng – dongeng Dunia, masing–masing alih bahasa Chusaeri dan H.M Hidayat. Suatu peringatan bagi kita semua, seperti dongeng di Korea (Dongeng Indah Dari Asia) berjudul ”Kera Menjadi Hakim” .

Petikan ceritanya. Pada suatu hari seekor anjing bertengkar dengan seekor rubah. Yang menjadi pokok pertengkaran ialah sepotong daging. Kata anjing, ”Ini punyaku”. Sahut rubah, ”bukan, ini aku yang punya,”. Setelah bertengkar beberapa lama, mereka setuju menyerahklan persoalan itu keteman mereka, yaitu seekor kera. Kera mendengarkan perkaatan mereka, masing–masing lalu berbagi. Supaya adil, daging dibagi dua sama besar satu untuk anjing dan yang satu untuk rubah. Ia mengambil sebuah pisau, daging itu dipotongnya menjadi dua bagian, lalu ditimbang. Ternyata bagian yang satu lebih berat dari pada yang lain. Yang lebih berat itu di gigit dan dimakannya sedikit. Demikianlah seterusnya, selalu ada satu bagian yang lebih berat, dan selalu bagian inilah yang dikurangi dengan gigitannya. Akhirnya daging itu habis dimakannya sendiri. Kepada rubah anjing berkata ”kalau tau akan begini jadinya tidak akan minta tolong kepada kera. Hakim curang dia!Di negara Korea memang ada sebuah pepatah yang mengatakan ”lebih baik mendamaikan perselisihan di luar ruang Pengadilan daripada kehilangan segala– galanya di dalam ruang Pengadilan.

Dampak Positif

Kembali pada persoalan di atas mengenai bergesernya pola mendongeng secara langsung dari orang tua kepada anak cucunya, memberi kesan lain, seperti bergesernya pula frekwensi interaksi kedua belah pihak. Kasus itu belum terlalu mengkhawatirkan bagi kelangsungan hidup keluarga. Mengingat kondisi itu juga memiliki dampak positif lain. Anak–anak tidak lagi ketergantungan, menangis merengek–rengek minta di dongengkan setiap menjelang tidur malam.Disamping buku bacaan, televisi adalah sarana pengganti mendongengkan anak. Setelah mereka lama membaca atau menonton pasti akan mengantuk, dan mereka tidur dengan sendirinya.

Tampak ada kesan beberapa anak pada era sekarang yang tingkat pendidikannya keluarga sudah maju, merasa enggan didongengkan oleh kakek–neneknya di tempat tidur, karena kakek – neneknya ada bau sirih pinangnya.Akhirnya, kita perlu tahu sebenarnya sampai sejauh dan seberapakah manakah pergeseran mendongeng bagi orang tua kepada anak cucunya yang dapat mengganggu kualitas komunikasi keluarga? Penulis Pegawai DiskominfoKab. Karangasem

 

 



Artikel Lainnya :

Lihat Arsip Artikel Lainnya :

 



Galeri
Banner
Kritik Saran

I Komang Karyana

2021-01-27 11:13:04

Area Blankspot

Selengkapnya...

Rizki Aryawan

2018-04-05 10:40:30

Jalan Amblas

Selengkapnya...

Yoga Aryawan

2018-03-08 11:09:08

Beasiswa

Selengkapnya...
Polling
Bagaimana Penilaian Anda Terhadap Kualitas Pelayanan Publik Pemkab Karangasem?
Statistik

Total Pengunjung Hari Ini : 433

Total Pengunjung : 1506796

Pengunjung Online: 3

Pengunjung Tahun 2018: 131224

Pengunjung Tahun 2019: 107326

Pengunjung Tahun 2020: 144390

Pengunjung Tahun 2021: 404435