Baca Artikel

Tradisi “Perang” Di Karangasem, Bali (II): Lempar-lemparan Api Obor Menetralisir Roh Jahat

Oleh : karangasemkab | 14 Januari 2013 | Dibaca : 932 Pengunjung

Penulis: I Komang Pasek Antara

 

Setelah pembaca menikmati gambaran kerasnya gebugan rotan dalam tradisi pertunjukkan “perang rotan” di Desa Seraya, pembaca lagi dapat menikmatijenis “perang” lain, yaitu tradisi ”perang api” yang oleh masyarakat setempat disebut Terteran. Terteran artinya sama dengan lempar-lemparan.

Terteran dapat saksikan di Desa Jasri lokasinya menuju arah barat masih dalam satu kecamatan Karangasem, tidak jauh sekitar 10 km dari Desa Seraya tempat digelarnya tradisi Gebug.Perang seperti senjata api? bukan! perang api dengan bola bakar? juga bukan! lantas apa? Berikut liputan penulis langsung dari lokasi ”perang.

Tradisi Terteran bersifat ”perang” massal melibatkan sekitar 60 orang ”pasukan” terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok warga Jasri yang rumah tinggalnya di wilayah sebelah utara balai masyarakat Jasri. Sedangkan pihak kelompok lawannya warga yang rumah tinggalnya di sebelah selatan balai masyarakat tersebut.

Terterandigelar saat sore menjelang petang hari di medansepanjang jalan raya uumum di muka Balai Masyarakat Jasri. Akibatnya jalan raya yang menghubungkan Kota Amlapura-Denpasar sementara ditutup selama hampir 3 jam.

”Medan perang” yang boleh dijelajahi kedua kelompok itu terpisah oleh batas wilayah kelompok, berupa bentangan daun enau yang diikatkan di dua buah penjor yang dipancangkan di sebelah barat dan timur jalan raya.

Bobok(obor) yang dipakai ngeter (melempar) itu, terbuat dari seikat danyuh (daun kelapa kering) yangberukuran 80 cm. Di tengah cekalan daun kelapa itu, terdapat sebatang kayu kecil berukuran seperempat dari panjangnya obor. Hal itu dimaksudkan agar lemparan obornya lebih jauh, cepat dan keras.

Para pemainnya, yaitu orang laki-laki tua maupun muda, tidak mengenakan baju, mereka hanya mengenakan kain atau celana.

Begitu peluit tanda mulai dibunyikan, mereka silih berganti menyerang, obor berseliweran menyerang lawan dari atas maupun bawah, bahkan sampai membentur tubuh teman sendiri. Semburan api yang terlempar sangat indah, seperti kunang-kunang. Gerrrrr para penonton selalu bersorak-sorai mentertawakan mereka yang terkena lemparan obor, sebab bukan tidak mungkin tubuh merekaakan terbakar paling tidak hangus. Guessss.....plak, guesss...plak, begitu suara lemparan obor di udara. Sementara suara riuh rendah penonton terus menggema memberikan suport. Meskipun masih saudara atau tetangga satu desa mereka tidak peduli.

 

Senang, Perih dan Sakit Berbaur Menjadi Satu

Seperti penuturan I Ketut Pasek Antara dan I Wayan Suma kepada penulis saat usai mengikuti Terteran, mereka semangat sekali melakukan ”peperangan” keringat bercucuran membasahi badannya yang luka bakar. Rasanya senang, perih dan sakit berbaur menjadi satu, namun tak mereka rasakan serius luka itu, sebab kalau sudah memegangsecekal obor pada gejolak hati peperangan itu mereka seolah-olah tak ingat apa-apa lagi. Terkadang lemparan obor tidak memenuhi sasaran sampai membentur penonton, suara riuh penonton lainnyapun pecah menertawakan penonton yang kena sasaran lemparan.

Uniknya lagi apabila salah satu pemainnya mengalami kecelakaan, karena jatuh terpeleset maupun kulitnya mengalami luka bakar, mereka tidak perlu repot-repot harus pergi kemedis. Luka itu akan sembuh hanya dengan diolesi atau diperciki air tirta (air suci) yang dimohonkan kehadapan Ida Betara (Tuhan)bersemayamkan di Pura Balai Agung yang sedang diupacarakan. Nantinya luka itu akan beraangsur-angsur sembuh.

Keseluruhan ”peperangan” berlangsung sekitar 1 jam. Pertandingan berlangsung beberapa babak dan setiap babak ditandai dengan matinya api obor. Peperangan berakhir apabilahabisnya danyuh tersebut.

 

MenetralisirRoh Jahat

Gambaran suasana ”perang” di atas adalah tambahan dari rangkaian utama Tereteran yang dilaukan terkait dengan kegiatan Upacara Agama Usaba Aci Muu-Muu di Desa Pakraman Jasrisetiap rainan tilem kesanga (satu hari sebelum Nyepi).

Terteranyang utama digelar pada rayatilem kesanga (bulan mati, satu hari sebelum hari Nyepi) terkait dengan rentetan upacara nebekin sampi (membunuh sapi) di muka Pura Puseh guna perlengkapan mecaru (korban suci) terhadap Bhutakala (roh jahat). Baru kemudian sore harinya Terteran dimulai. Sekitar 50 orang laki-laki tua-muda dengan mengenakan kain putih tanpa baju serta kepala terikat daun enau berangkat menuju Pantai Jasri sekitar 500 meter di sebelah selatan Desa. Sekembalinya mereka dari melarung caru ke laut malam sudah menyungkup bumi, dan tepat di muka balai masyarakat Jasri tempat atraksi Terteranbiasanya dilangsungkan, mereka dihadang serta dilempari oleh puluhan orang warga desa dengan bobok (obor).

Pembawa caru yang disebut dengan Wong Bedolot itu, tidak boleh melawan, hanya menangkis saja dengan obor yang mereka bawa. Apabila obor yang dipakai melempar itu habis, maka Wong Bedolot sudah lepas dari cengkeraman lemparan, dan terus lari bergegas-gegas menuju arah Pura Balai Agung.

Maksud melempar Wong Bedolot dengan obor di dasari oleh suatu mitos, bahwa Wong Bedolot itu sekembalinya dari pantai diperkirakan masih diikuti oleh sejumlah roh jahat yang dapat mengganggu ketentraman lingkungan, karena itu ia harus dinetralisir dan tidak boleh masuk ke wilayah desa. Suasana malam itu betul-betul kelam dan tegang, tanpa seberkas sinar lampu di rumah penduduk. Yang terlihat hanyalah pancaran sinar obor dikegelapan malam.

Setiap Dua Tahu Sekali

Menurut tokoh masyarakat Jasri, I Wayan Oreg, tradisi Terteran ini berlangsung setiap dua tahun sekali (hitungan tahun genap), tepatnya pada hari raya tilem kesanga (bulan mati), pada saat itu pula umat Hindu di Indonesia melangsungkan upacara mecaru (korban suci) kehadapan Bhutakala (makhluk jahat) yang dapat mengganggu kehidupan alam sekitarnya. Keesokan harinya baru diberlakukan hari Nyepi nasionalHari Nyepi dilakasanakan setiap tahun sekali setiap bulan Maret/April. Hari itu umat Hindu selama 24 jam penuh tidak diperkenankan/larangan melakukan empat jeniskegiatan/aktivitas yang biasanya dilakukannya setiap hari. Empat jenis larangan kegiatan/aktivitas tersebut meliputi: Amati Geni (tidak menyalakan api/lampu dan tidak boleh mengobarkan hawa nafsu); Amati Karya (tidak melakukan kegiatan/kerja pisik, melainkan tekun melakukan penyucian rohani; Amati Lelungan (tidak bepergian kemana-mana, melainkan senantiasa mulat sarira/atau mawas diri di rumah serta melakukan pemusatan pikiran bhakti kehadapan kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa dalam berbagai manifestasinya); dan Amati Lelungan (tidak mengadakan hiburan/rekreasi atau bersenang-bersenang lainnya). Pada saat Hari Nyepi itulah umat Hindu telah memasuki tahun baru Icaka.



Artikel Lainnya :

Lihat Arsip Artikel Lainnya :

 



Galeri
Banner
Kritik Saran

I Komang Karyana

2021-01-27 11:13:04

Area Blankspot

Selengkapnya...

Rizki Aryawan

2018-04-05 10:40:30

Jalan Amblas

Selengkapnya...

Yoga Aryawan

2018-03-08 11:09:08

Beasiswa

Selengkapnya...
Polling
Bagaimana Penilaian Anda Terhadap Kualitas Pelayanan Publik Pemkab Karangasem?
Statistik

Total Pengunjung Hari Ini : 393

Total Pengunjung : 1506755

Pengunjung Online: 5

Pengunjung Tahun 2018: 131224

Pengunjung Tahun 2019: 107326

Pengunjung Tahun 2020: 144390

Pengunjung Tahun 2021: 404435