Baca Artikel

Tradisi “Perang” Di Karangasem, Bali (I) Saling Pukul Dengan Rotan Untuk Memohon Hujan

Oleh : karangasemkab | 14 Januari 2013 | Dibaca : 2177 Pengunjung

BALI telah dikenal diseantero dunia karena berbagai aktivitas seni dan budayanya yang adi luhung. Hampir seluruh aspek budaya masyarakat Bali penuh dengan simbol–simbol sosial religius. Kecil wilayahnya luas misterinya bahkan penuh keunikan. Disebut unik, karena yang ada di Bali tidak ada di luar Bali.

Tulisan ini mencoba menelusuri salahsatu aktivtas tradisi agama/budaya masyarakat yang unik, menarik bernapaskan ”perang”di ujung timur pulau Bali yaitu di Kabupaten Karangasem, salah satu dari sembilan kabupaten/kota di Propvinsi Bali.

Selain Karangasem dikenal dengan keunikan tradisi agama/budayanya juga dikenal banyak memiliki obyek wisata alam, salah satu obyek wisatanya yang terkenal adalah tempat suci umat Hindu terbesar di Indonesia yaitu Pura Besakih, lokasinya di kakiGunung Agung, gunung tertinggi di Bali. Obyek wisata lainnya yang tak kalah menariknya yakni: Pantai Candidasa, Pantai Bunutan, Taman Tirta Gangga, Taman Ujung, Agro wisata buah salak dll.

Kabupaten Karangasem dengan ibukotanya Amlapura berpenduduk sekitar 427.871 jiwa, luas wilayah sekitar 839.54 km2 terdiridari 8 wilayah kecamatanPotensi wilayah alamnya berpariasi. Sebagian daerahnya bertanah kering tandus, dan sebagian lagi beriklim sejuk banyak air.

Kembali kepada uraian awal tulisan ini, bagaimana tradisi agama/budaya unik yang sampai saat ini masih dilestarikan dan dilakoni oleh masyarakat Karangasem yang benafaskan ”perang” dan mencerminkan sikap heroik?. Perang konvensional yang memakai senjata api? Bukan! Lalu perang apa itu? Jangan kaget, ada berbagai perang yang suka dilakukan penduduk desa di Karangasem. Misalnya ”perang rotan” atau yang oleh masyarakat setempat disebut Gebug Ende, terdapat di Desa Seraya, ”perang api ” (Teteran) di Desa Jasri,”perang Jempana” dan ”perang pelepah pisang” (Tetabahan) di Desa Bugbug, dan ”perang pandan berduri” yang dikenal dengan Mekare-kare terdapat di desa Tenganan Pegeringsingan salahsatu desa penduduk Bali Aga (Bali asli).

Mengapa masyarakat di beberapa desa di Karangasem mempunyai tradisi ”perang” seperti itu? Apakah masyarakatnya dari dulu memang suka berperang? Tentu saja tidak, sebab mereka sadar bahwa negara Indonesia merupakan negara hukum, yang tidak membenarkan tindakan kekerasan seperti itu. Tapi semangat berperang tetap kita gelorakan dihati sanubari masyarakat Karangasem seperti: perang melawam kemiskinan, perang melawan korupsi dan perang melawan kejahatan. Namun yang jelas Kabupaten Karangasem pernah mempunyai pejabat Ketua DPRD Karangasem (periode tahun 1983-1988) lalubernama Ida Bagus Ketut Perang (alm), sedangkan pada masa ituBupatinya bernama Gusti Nyoman Yudhana (alm.), Yudha berarti perang.

 

Gebug

Salah satu desa yang kita temukan kalau kita menyusuri Kabupaten Karangasem dari arah timur adalah desa Seraya, kini telah dimekarkan menjadi tiga desa meliputi: Seraya Barat, Seraya Tengah dan Seraya Timur, termasuk wilayah Kecamatan Karangasem, 10 km dari kota Amlapura setelah melewati obyek wisata Taman Soekasada Ujung. Jika di lihat di peta Pulau Bali, wilayah berada paling ujung timur.

Secara Geografis desa ini tanahnya tandus. Hampir setiap tahun bila musim kemarau tiba desa ini membutuhkan bantuan tambahanair minum/mandi meskipun air minum PDAM sudah masuk ke Seraya.

Seraya juga masih menyimpan sejumlah identitas lain dengan kualitas relativ baik . Misalnya di bidang hasil bumi, dikenal jagung Seraya yang rasanya gurih dan empuk, merupakan produk kecil dari beberapa bidang tanah yang bisa di tanami. Dan anehnya, kendati geografisnya demikian tapi sosok tubuh penduduknya dikenal fisiknya kuat.

Mungkin akibat keadaan geografis yang tandus itulah, maka masyarakat Seraya khususnyamemiliki tradisi budaya religius itu memohon turunnya hujan. Untuk terkabulnya permohonan itu mereka menggelar tradisi yang namanya Gebug (perang rotan), biasanya dilakukan pada musim kemarau tiba. Bagaimana bentuk atraksinya?

Plak, plak, plak, cebet, cebet. Begitu suara pukulan sebatang rotan membentur ende (perisai) dan sekali-kali menerpa tubuh lawan. Meski tubuhnya terkena pukulan rotan, mereka merasa gembira dan sembari menari-nari kegirangan. Sementara suara gamelan bertalu-talu sebagai pengiring memanaskan suasana ”perang”. Penonton pun sorak-sorai unruk memberika suport. Mereka bertanding satu lawan satu. Sebatang rotan sebagai alat pemukul panjangnya sekitar satu meter. Sedangkan alat penangkisnya sebuah perisai bergaris tengah 60 cm terbuat dari lapisan kulit sapi kering yang terikat pada bingkai kayu.

Cara ”perang” mereka boleh dikatakan menarik dan mengerikan, karena berduel satu lawan satu memakai alat pemukul dari rotan tanpa mengenakan baju hanya pakai busana kain adat saja. Tak pelak cucuran darah tubuhnya/kepala akan mengalir karena pukulan sebatang rotan, paling tidak bekas memar akan membekas setiap pukulan rotan itu mendarat di punggungnya apalagi ”perang” ini di mainkan dibawah terik matahari.

Atraksi Gebug umumnya dilakukan di sela-sela istirahat kerja di ladang pada siang/sore hari biasanya saat akan menjelang musim tanam di ladang. Masyarakat pendukungnya mempercayai, kalau permaiann Gebug salahsatu pemainnya sampai mengelarkan darah dari pukulan rotan maka ada kemungkinan hujan akan cepat turun. Singkatnya, menurut kepercayaan masyarakat Seraya, permainan Gebug digelar di wilayah desanyaini untuk memohon kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan ) agar hujan segera turun untuk keperluan pertanian dan konsumsi.

Diakui memang tidak selalu sehabis atraksi Gebug hujan akan spontan turun, sebab turunnya hujan tergantung kepada-Nya, paling tidak warga sudah berupaya memohon kepada yang kuasa. Atraksi ini biasanya berlangsung di tempat-tempat umum dengan mengundang lawan yang ada di desa sekitarnya termasuk Dusun Ujung Pesisi, sebuah kampung nelayan pinggir pantai Ujung yang penduduknya sebagain warga Muslim asal Pulau Lombok. Gebug dilakoni oleh baik anak kecil, dewasa maupun orang tua tak ketinggalan dalam mengadu kepintaran memainkan batangan rotan dan perisai.

Menurut penuturan I Wayan Kembar, salah seorang pemuda desa Seraya yang sudah sering ikut Gebug, jika para pemain sudah memegang sebatang rotan dan perisai maka akan muncul gejolak hati untuk maju melawan musuh. Tidak memandang siapa yang dilawan teman atau saudara. Bagi para pemain Gebug bersimbah darah akibat terkena rotan sudah biasa,rasa sakit dan gembira membaur menjadi satu. Tentang pengobatannya? Ooo... katanya tidak perlu repor-repot ke dokter! luka itu akan segera kering dan sembuh dengan memakai obat ramuan tradisional.

Karena tradisi Gebug Seraya memiliki kekhasan dan berkualitas baik sebagai pertunjukkan rakyat, maka berbagai pihak masyarakat dan pemerintah memanfaatkannya untuk dipertunjukkan dalam acara tertentu termasuk konsumsi wisatawan domistik dan mancanegara yang datang ke Karangasem. Bahkan Gebug Seraya oleh para seniman tari di Karangasem seperti Ni Wayan Kinten pemilik Sanggar Seni Mini Artis Amlapura mengemasnya kedalam bentuk tarian, cukup atraktif!

 

Aturan Permainannya

Aturan permainan Gebug sangat sederhana. Arena yang dipergunakan tidak menuntut tempat yang luas minimal 6m2. Juru kembar (juri pertandingan) masing-masing menyeleksi perbandingan/penyesuaian lawanpostur tubuh maupun usia. Sebelum permainan di mulai biasanya didahuluipermainan pendahuluan yang di mainkan oleh juru kembar tapi tidak samapai rotan membentur tubuh lawan. Hal itu hanya dilakukan sebentar sebagai rangsangan pemberi semangat kepada yang akan bermain.

Biasanya kalau Gebug tersebut digelar di desanya, sebelum pertandingan di mulai para pemainnya minum tuak (nira) agar badan cepat panas tapi tidak sampai mabuk. Peraturan permainannya sederhana sekali, mereka tidak di perkenankan memukul di bawah pusar dan saling berangkulan. Tidak boleh menyerang melewati garis batas wilayah posisi pemain. Jika aturan tersebut dilanggar mereka dilerai dan diberi peringatan. Apabila tidak mengindahkan peringatan maka mereka dikeluarkan dari arena dan dinyatakan kalah.

Umunya permainannya berlangsung singkat sekitar 10 menit. Tidak ada pernyataan resmi dari wasit pihak yang menang ataupun kalah, hanya penonton yang dapat menilainya.

Ada kisah menarik mengenai masyarakat Seraya yang terkenal kuat fisiknya itu, menurut mantan Kepala Desa Seraya Tengah, I Ketut Jineng, pada zaman kerajaan masyarakat seraya merupakan ”tangan kanan” Raja Karangasem yang memerintah pada waktu itu.

Di masyarakat seraya ada beberapa orang yang di kenal dengan sebutan sorohan petang dasa (kelompok empat puluh). Mereka itulah yang harus tampil lebih dahulu melawan musuh jika ada perang.

 

Di Lombok Juga Ada Gebug

Permainan Gebug seperti ini bukan hanya ada di Desa Seraya, tetapi di Lombok (Nusa Tenggara Barat) mengenal jenis tradisi itu, hanya namanya berbeda. Di Lombok diberinya nama presean, dan popularitasnya sama antara di Lombok dengan Desa Seraya. . Permainan Gebug/Presean (perang rotan) ada dua pendapat berbeda. Menurut Dewa Gde Raka budayawan asal Karangasem, diciptakan oleh masyarakat Desa Seraya, Karangasem. Di pihak lain pendapat budayawan Lombok Drs. L. Djalaluddin Arzaki, diciptakan di Lombok oleh orang–orang suku Sasak.

Prinsip permainan rakyat itu sama, disamping tujuan utama kepada Tuhan untuk permohonan hujan cepat turun, juga sebagai hiburan yang cukup marak di kedua tempat itu. Bedanya hanya alat penangkis (perisai). Di Lombok bentuk perisai persegi empat panjang sedangkan di Seraya Karangasem bentuknya bundar.

Nama Desa Seraya di Karangasem juga terdapat di desa Seraya (Lombok Barat), dan orangnya asal dari satu keturunan Desa Seraya (Karangasem). Hal itu disebabkan masyarakat Seraya, Karangasem sejak jaman kerajaan Karangasem pada abad ke-17 pernah melebarkan kekuasaannya sampai ke Pulau Lombok dengan iringan warga Seraya, Karangasem.



Artikel Lainnya :

Lihat Arsip Artikel Lainnya :

 



Galeri
Banner
Kritik Saran

I Komang Karyana

2021-01-27 11:13:04

Area Blankspot

Selengkapnya...

Rizki Aryawan

2018-04-05 10:40:30

Jalan Amblas

Selengkapnya...

Yoga Aryawan

2018-03-08 11:09:08

Beasiswa

Selengkapnya...
Polling
Bagaimana Penilaian Anda Terhadap Kualitas Pelayanan Publik Pemkab Karangasem?
Statistik

Total Pengunjung Hari Ini : 395

Total Pengunjung : 1506757

Pengunjung Online: 8

Pengunjung Tahun 2018: 131224

Pengunjung Tahun 2019: 107326

Pengunjung Tahun 2020: 144390

Pengunjung Tahun 2021: 404435